Anugerah Diktisaintek 2025, berhasil diraih oleh Prof. Ir. Totok Agung, DH., MP., PhD., Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Dia meraih penghargaan terbaik lewat Inovasi Pertanian Unsoed Program Kosabangsa. Program ini berhasil mengangkat kesejahteraan petani dan peternak di Desa Pruwatan, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia pada acara penganugerahan yang digelar Jumat, 19 Desember 2025, di Gedung D Kementerian Pendidikan Tinggi RI, Jakarta.
Diktisaintek 2025 Soroti Dampak Nyata Riset Unsoed
Desa Pruwatan selama bertahun-tahun dikenal sebagai desa miskin ekstrem. Mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan peternakan. Sekitar sepuluh tahun lalu, bendungan jebol akibat bencana alam menyebabkan sistem irigasi rusak parah.
“Petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun, bahkan sering gagal panen atau produktivitasnya sangat rendah,” ungkap Prof. Totok Agung saat pemaparan program yang dipandu Ir. H. Alief Einstein, M.Hum., Senin (22/12/2025).
Peternak pun menghadapi persoalan serius, mulai dari kelangkaan pakan saat musim kemarau hingga pengelolaan limbah ternak yang belum optimal, sehingga mencemari lingkungan.
Kolaborasi Kosabangsa Jadi Kunci Keberhasilan
Dalam program yang mengantarkannya meraih Diktisaintek 2025, Prof. Totok Agung memimpin Tim Pendamping Unsoed bersama:
- Prof. Sri Lestari (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed)
- Dr. Arif Sudarmaji (Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Unsoed)
Pelaksanaan lapangan dilakukan oleh Universitas Peradaban Bumiayu, Brebes, dengan tim:
- Siti Mudmainah (Ketua)
- Randi Adzin
- Wahyu Febriyono dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Peradaban.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menjadi salah satu poin penilaian penting dalam Anugerah Diktisaintek 2025.
Empat Inovasi Unggulan
Program Kosabangsa yang dinilai unggul dalam Diktisaintek 2025 meliputi:
- Varietas Padi Protani
Varietas unggul hasil riset Unsoed dengan produktivitas tinggi, kandungan protein tinggi, dan toleran kekeringan. - Pompa Air Tenaga Surya
Sistem pompa air dari Sungai Cipali berbasis panel surya, hemat biaya, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Warga desa bahkan mewakafkan lahan untuk panel surya. - Produksi Pupuk Organik dari Limbah Ternak
Kotoran sapi dan kambing diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi yang kini telah diproduksi dan dipasarkan. - Pengembangan Rumput Pakan Ternak
Penanaman rumput pakan di lahan desa untuk menjamin ketahanan pakan peternak sepanjang tahun.
Dampak Nyata: Alasan Prof Totok Agung Raih Diktisaintek 2025

Saat ini, pompa air tenaga surya telah beroperasi, memungkinkan petani menanam padi dua kali setahun atau lebih. Varietas Protani meningkatkan hasil panen, sementara pupuk organik menjadi sumber pendapatan baru.
Program ini melibatkan pemerintah desa, petani, peternak, TNI (Koramil dan Kodim), penyuluh pertanian, dosen, serta mahasiswa Unsoed dan Universitas Peradaban.
“Masyarakat tani Desa Pruwatan kini berbahagia karena panen meningkat dan biaya produksi menurun,” ujar Prof. Totok Agung.
Diktisaintek 2025: Ilmu Harus Membumi
Prof. Totok Agung menegaskan bahwa capaian Diktisaintek 2025 bukan sekadar penghargaan personal.
“Ini ikhtiar agar ilmu pengetahuan benar-benar bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat. Kegiatan ini mencakup aspek kebencanaan, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan pengentasan kemiskinan,” katanya.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.







