Tren Suspek Meningkat, Pemprov Jateng Genjot Imunisasi dan Edukasi, Antisipasi Lonjakan Kasus Campak

Nestya Zahra
Wakil Gubernur Jawa Tengah saat menerima kunjungan anggota DPR R terkait adanya kasus KLB Campak di Jawa Tengah. (dok. Pemprov)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat langkah pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak seiring meningkatnya tren kasus suspek dalam tiga tahun terakhir.

Fokus utama diarahkan pada percepatan imunisasi serta edukasi masyarakat, mengingat tingginya daya tular penyakit tersebut.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyebut kewaspadaan campak perlu ditingkatkan karena tingkat penularan campak sangat tinggi, bahkan melampaui COVID-19.

“Kalau Covid-19 satu orang menulari lima orang, campak bisa sampai 18 orang. Maka penguatan imunisasi menjadi kunci,” ujarnya usai menerima kunjungan kerja Komisi IX DPR RI di Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Tiga Daerah Alami KLB, Lima Wilayah Jadi Perhatian

Saat ini, KLB campak di Jawa Tengah tercatat terjadi di tiga daerah, yakni Cilacap, Klaten, dan Pati. Sementara itu, dua daerah lain masuk kategori suspek, yaitu Brebes dan Kudus.

Baca juga  Pemerintah Pusat dan Gubernur Sepakat Percepat Program 3 Juta Rumah

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, tren suspek campak terus meningkat sejak 2023 hingga triwulan pertama 2026. Lonjakan tertinggi terjadi pada Januari 2026 dengan 792 kasus suspek.

Meski sebagian besar wilayah masih terkendali, potensi penyebaran tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Dampak Pandemi, Imunisasi Campak Sempat Tertinggal

Taj Yasin menjelaskan, peningkatan kasus campak tidak lepas dari terganggunya layanan imunisasi selama pandemi Covid-19. Karena itu, Pemprov Jateng kini mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah.

“Ini momentum untuk mengejar ketertinggalan. Kami terus menggerakkan kembali imunisasi dan memperkuat kampanye kepada masyarakat,” katanya.

Pada 2025, capaian imunisasi MR bayi di Jawa Tengah tercatat mencapai 106,7 persen atau melampaui target. Namun demikian, masih terdapat sejumlah wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penularan.

Kemenkes dan DPR Dorong Edukasi Lebih Masif

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi capaian Jawa Tengah dalam menjaga cakupan imunisasi di tengah jumlah penduduk yang besar.

Baca juga  Banjir Sungai di Kuwarasan Kebumen Gerus Rumah Warga

Ia menekankan pentingnya pemetaan wilayah hingga tingkat desa agar intervensi lebih tepat sasaran.

Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menilai langkah Pemprov Jateng sudah tepat, namun perlu diperkuat melalui edukasi publik yang lebih luas dan kolaboratif.

“Edukasi harus melibatkan semua pihak, mulai dari guru, orang tua, hingga influencer. Ini tidak bisa hanya dilakukan pemerintah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti masih adanya penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua yang berpotensi memperluas penyebaran penyakit.

Kenali Bahaya Campak dan Pentingnya Vaksinasi

Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular melalui percikan batuk atau bersin, serta kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.

Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, hingga muncul ruam pada kulit. Penularan dapat terjadi sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul.

Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, diare berat, hingga kematian, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

Baca juga  Program PAUD Emas, Untuk Wujudkan Generasi Cerdas